Rabu, 02 November 2011

HUBUNGAN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

LOGO MAU DI PAKE copy


FERY SULISTYO

NPM : 09.11.108.170207.000694

Semester : V

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Beberapa virus yang tampak di dunia pendidikan yang bersumber dari paradigma sentralisasi, diantaranya penggunaan pakaian seragam, pengunaan kurikulum yang seragam, penggunaan stratergi pembelajaran yang seragam, penggunaan buku sumber yang seragam. Penyeragaman ini dimaksudkan untuk mengingkarimadanya keragaman.

Semua bentuk penyeragaman ini ternyata telah berhasil membentuk anak-anak Indonesia yang sangat menghargai kesamaan, dan tanpa sadar ternyata juga telah berhasil membentuk anak-anak yang mengabaikan penghargaan pada keragaman. Anak-anak sangat sulit menghargai perbedaan. Perilaku yang berbeda lebih dilihat sebagai kesalahan yang harus dihukum.[1]

Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Menurut Mauritz Johson (1967, Hlm. 130) kurikulum “prescribes for at least anticipates) the result of intruction”. Kurikulum juga merupakan suatu proses pendidikan. Disamping kedua fungsi itu, kurikulum juga merupakan suatu bidang studi, yang ditekuni oleh para ahli atau spesialis kurikulum, yang menjadi sumber konsep-konsep atau memberikan landasan-landasan teoretis bagi pengembangan kurikulum berbagai instuisi pendidikan.[2]

B. RUMUSAN MASALAH

Untuk mengetahui kaitan antara kurikulum dengan pembalajaran kita harus mengetahui beberapa masalah diantaranya:

1. Apa yang dimaksud dengan Konsep Kurikulum?

2. Apa yang dimaksud Kurikulum dan Teori-Teori Pendidikan?

3. Apa yang dimaksud Pengertian Kaitan Antara Kurikulum Dengan Pembelajaran?

4. Apa yang dimaksud Fungsi kurikulum terhadap pembelajaran?

5. Beberapa Komponen kurikulum yang berpengaruh terhadap pembelajaran?

C. TUJUAN

Dengan mempelajari pendekatan belajar mengajar pemakalah mengharapkan kita dapat mengetahui Apa yang dimaksud Apa yang dimaksud dengan Konsep Kurikulum, Apa yang dimaksud Kurikulum dan Teori-Teori Pendidikan, Apa yang dimaksud Pengertian Kaitan Antara Kurikulum Dengan Pembelajaran, Apa yang dimaksud Fungsi kurikulum terhadap pembelajaran, Beberapa Komponen kurikulum yang berpengaruh terhadap pembelajaran, Dan semoga dengan mempelajari ini pengetahuan kita tentang pendidika semakin bertambah.


BAB II

PEMBAHASAN

A. KAITAN ANTARA KURIKULUM DENGAN PEMBELAJARAN

Dalam kamus besar bahasa Indonesia edisi ketiga pengertian dari Kaitan adalah (kait;gancu); hubungan (sangkutan) : mungkin hal itu ada. [3] Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan, perangkat mata kuliah mengenaibidang keahlian khusus.[4]

Kurikulum asal mulanya bukan berasal dari bahasa Indonesia, tetapi berasal dari bahasa latin yang kata dasarnya adalah Currere, secara harfiah berarti lapangan perlombaan lari, lapangan tersebut ada batas start dan batas finish. Dalam lapangan pendidikan pengertian tersebut dijabarkan bahan pelajaran sudah ditentukan secara pasti, dari mana mulai dijabarkan dan kapan diakhiri, dan bagaimana cara untuk menguasai bahan agar dapat mencapai gelar.[5]

Kegiatan penyusunan analisis materi pelajaran berupa penjabaran dan penyesuaian isi GBPP mata pelajaran, Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Menjabarkan Kurikulum

Yaitu menguraikan bahan pelajaran, menguraikan tema, Konsep pokok bahasan yang mengacu pada tujuan pembelajan.

2. Menyesuaikan Kurikulum

Yaitu menyesuaikan pembellajran dalam kurikulum nasional dengan keadaan stempat agar proses belajar dan hasil belajar dapat dicapai secara efektif dan efisien, sesuai dengan tujuan. Kegiatan penyesuaian kurikulum mencakup:

a. Pemilihan metode

b. Pemilihan sarana pembelajaran

c. Pendistribusian waktu belajar mengajar[6]

Dalam perencanaan atau penyusunan suatu program pengajaran, hal pertama yang perlu mendapat perhatian adalah kurikulum terutama GBPP-nya. Dalam GBPP telah tercantum tujuan kurikuler, tujuan intruksional, pokok bahasan serta jam pelajaran untuk mengajarkan pokok bahasan tersebut.[7]

B. Konsep Kurikulum

Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori praktik pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya. Menurut pandangan lama, kurikulum merupakan kumpulan mata-mata pelajaran yang harus disampaikan guru atau dipelajari oleh siswa. Anggapan ini telah ada sejak zaman Yunani kuno, dalam lingkungan atau hubungan tertentu pandangan ini masih dipakai sampai sekarang, yaitu kurikulum sebagai “.... a racecourseof subject matters to be mastered” (Robert S. Zais, 1976, Hal. 7). Banyak orang tua bahkan juga guru-guru, kalau ditanya tentang kurikulum akan memberikan jawaban sekitarbidang studi atau mata-mata pelajaran.

Lebih khusus mungkin kurikulum diartikan hanya sebagai isi pelajaran. Kurikulum adalah program didikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa. Berdasarkan program pendidikan tersebut siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga mendorong perkembangan dan pertumbuhannya sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, dengan program kurikuler tersebut, sekolah/lembaga pendidikan menyediakan lingkungan pendidikan bagi siswa untuk berkembang. Itu sebabnya, kurikulum disususun sedemikian rupa yang memungkinkan siswa melakukan beraneka ragam kegiatan belajar. Kurikulum tidak terbatas pada sejumlah mata pelajaran, namun meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa, seperti: bangunan sekolah, karyawa tata usaha, gambar-gambar, halaman sekolah, dan lain-lain.[8]

C. Kurikulum dan Teori-Teori Pendidikan

Kurikulum mempunyai hubungan yang sangat erat dengan teori pendidikan. Suatu kurikulum disusun dengan mengacu pada satu atau beberapa teori kurikulum, dan suatu kurikulum diturunkan atau dijabarkan dari teori pendidikan tertentu. Kurikulum dapat dipandang sebagai rencana konkret penerapan dari suatu teori pendidikan. Untuk lebih memahami hubungan kurikulum dengan pendidikan, dikemukakan bebrapa teori pendidikan dan model-model konsep kurikulum dari masing-masing teori tersebut. Minimal ada empat teori pendidikan yang banyak dibicarakan para ahli pendidikan dan dipandang mendasari pelaksanaan pendidikan, yaitu

1. Pendidikan klasik

Pendidikan klasik atau classical education dapat dipandang sebagai konsep pendidikan tertua. Konsep pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa seluruh warisan budaya, yaitu pengetahuan, ide-ide, atau nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir terdahulu.

2. Pendidikan pribadi

Pendidikan pribadi (personalized education) lebih mengemukakan peranan siswa.

3. Pendidikan interaksional

Konsep pendidikan ini bertolak dari pemikiran manusia sebagai makhluk sosial. Dalam kehidupannya, manusia selalu membutuhkan manusia lain, selalu hidup bersama, berinteraksi, dan bekerja sama.

4. Teknologi pendidikan

Yang diutamakan dalam teknologi pendidikan adalah pembentukan dan penguasaan kompetensi bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya lama.

Baik dalam uraian tentang modek-model konsep kurikulum, maupun dalam macam-macam desain kurikulum, masalah ini dan proses pengajaran selalu menjadi tema dan titik tolak. Hal itu disebabkan kedudukan kedua komponen kurikulum tersebut sangat penting. Dengan demikian, tidak mengherankan apabila ada yang berpendapat bahwa kurikulum itu tidak lain dari satu program pendidikan yang berisi jalinan antara isi dengan proses penyampaiannya. Pendapat demikian tidak seluruhnya benar tetapi mengandung kebenaran, mengingat kedua komponen tersebut berperan sebagai kunci.

D. Pengertian Kaitan Antara Kurikulum Dengan Pembelajaran

Dalam kegiatan proses pembelajaran, kurikulum sangat dibutuhkan krikulum sebagai pedoman untuk menyusun target dalam proses belajar mengajar. Namun, dalam memahami hakikat kurikulum sering terjadi perbedaan persepsi dan pemahaman.

Kurikulum dipandang sebagai suatu bahan tertulis yang berisi uraian tentang program pendidikan suatu sekolah yang harus dilaksanakan dari tahun ke tahun.

Kurikulum dilukiskan sebagai bahan tertulis untuk digunakan para guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Yang dimaksud dengan kurikulum adalah suatu usaha untuk menyampaikan asas-asas dan ciri-ciri yang penting dari suatu rencana dalam bentuk yang sedemikian rupa sehinggga dapat dilaksanakan guru di sekolah. kurikulum diartikan sebagai tujuan pengajaran, pengalaman-pengalaman belajar, alat-alat plajaran dan cara-cara penilaian yang direncanakan dan digunakan dalam pendidikan. kurikulum dipandang sebagai program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan tertentu.

Fungsi kurikulum terhadap pembelajaran Sehubung dengan pengertian dasar pendidikan tersebut, maka fungsi kurikulum difokuskan pada tiga aspek berikut: Fungsi kurikulum bagi sekolah yang bersangkutan, yaitu sebagai alat untuk mencapai seperangkat tujuan pendidikan yang didinginkan dan sebagai pedoman dalam mengaur kegiatan sehari-hari.

Fungsi kurikulum bagi tataran tingkat sekolah, yaitu sebagai pemeliharaan proses pendiddikan dan penyiapan tenaga kerja.

Fungsi bagi konsumen, yaitu sebagai keikutsertaan dalam memperlancar pelaksanaan program pendidikan dan kritik yang membangun dalam penyempurnaan progran yang serasi.

E. Komponen kurikulum terhadap pembelajaran.

Kurikulum dalam suatu sekolah mengandung tiga komponen dasar, yaitu komponen tujuan, isi atau materi dan komponen organisasi atau stratergi. Komponen tujuan

1. Tujuan pendidikan nasional, yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai pada tataran nasional.

2. Tujuan instusional yaitu yang ingin dicapai pada tingkat lembaga pendidikan.

3. Tujuan kurikulm yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai pada tingkat tataran mata pelajaran atau bidang studi.

4. Tujuan intruksional yaitu tujuan yang ingin dicapai pada tingkat tataran pengajaran yang dapat berwujud sebagai bentuk watak, kemampuan berfikir, dan berketerampilan teknologinya secara bertahap.

Isi suatu program kurikulum di sekolah dibedakan berdasarkan jenis bidang studi yang disajikan dan isi program masing-masing bidang studi tersebut. Komponen organisai dan stratergi

Komponen kurikulum yang terakhir adalah organisasi dan stratergi komponen organisasi, didalamnya terdapat struktur (susunan) horizontal dan vertikal. Dalam komponen stratergi pelaksanaan kurikulum tergambar dan cara yang ditempuh dalam melaksanakan pengajaran, cara mengadakan penilaian, cara melaksanakan bimbingan dan penyuluhan dan cara mengatur kegiatan sekolah secara keseluruhan.[9]

Menurut Drs. Ismed Syarif dkk (1976, Hal. 18-24) kegiatan dalam bidang kurikulum inim masih diperluas dengan mengatur pelaksanaan evaluasi belajar, membuat laporan hasil evaluasi dan mengatur kegiatan bimbingan dan penyuluhan.[10] Proses pembelajaran dapat terjadi secara efisien, dan efektif melalui suatu sistem kurikulum yang dirancang secara sistematik sejak penentuan tujuan yang harus dicapai, materi yang harus dipelajari, proses pembelajaran yang harus diterapkan, dan sistem evaluasi yang harus dikembangkan dan dilaksanakan. Kalau kita cermati, tujuan pendidikan yang dirumuskan dalam Undang- Undang Pendidikan Nasional, baik UU No. 4 Tahun 1950, jo UU No. 12 Tahun 1954, yang mencitakan manusia terdidik Indonesia sebagai “manusia susila yang cakap dan demokratis serta bertanggung jawab”, atau UU No. 2 Tahun 1989 yang mencitakan wujud manusia Indonesia terdidik sebagai “manusia yang beriman dan bertaqwa, sehat jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, berkepribadian yang mantap dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”, dan yang terakhir UU No. 20 Tahun 2003 yang mencitakan “manusia yang beriman, bertaqwa dan 92 Jurnal Pendidikan Penabur - No.03 / Th.III / Desember 2004 Kurikulum, Sistem Evaluasi, dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis berakhlak mulia, dan seterusnya”, kesemuanya mencitakan wujud sosok manusia yang ideal. Ketercapaiannya tidak mungkin tanpa suatu proses yang terencana, terprogram, dan terlaksana dengan efisien, efektif, dan relevan. Tetapi pada umumnya tujuan pendidikan yang demikian ideal selama ini tidak pernah dengan sungguh-sungguh diterjemahkan secara operasional dan diupayakan ketercapaiannya.

Bahkan banyak sementara orang (termasuk para pejabat atau pakar) yang memandang hal tersebut tidak mungkin dapat dicapai oleh sekolah. Mereka ini adalah kaum realis, dalam pengertian kalau penyelenggaraan pendidikan disekolah dengan kondisi seperti yang berlangsung sampai dengan hari ini, dalam pengertian rendahnya kesungguhan dan kemampuan guru, serta terbatasnya, bahkan tanpa fasilitas serta sarana dan prasarana yang diperlukan, dengan pengertian waktu yang terbatas, dalam pengertian model pembelajaran yang tidak lebih dari mendengar, mencatat, dan menghafal dengan evaluasi hanya mengukur kemampuan mengingat apa yang telah dipelajari dengan keterbatasan buku bacaan baik untuk guru dan murid. Kalau tetap demikian memang segala tujuan itu tidak akan dapat dicapai. Kalau demikian sesungguhnya tidak perlu kita mengubah kurikulum bahkan tidak perlu mengubah UU Sisdiknas, karena semuanya tidak dengan sendirinya dapat meningkatkan mutu pendidikan.[11]

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Kurikulum sangat berkaitan dengan pembelajaran dikarenakan Kurikulum adalah program didikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa. Berdasarkan program pendidikan tersebut siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga mendorong perkembangan dan peertumbuhannya sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, dengan program kurikuler tersebut, sekolah/lembaga pendidikan menyediakan lingkungan pendidikan bagi siswa untuk berkembang. Itu sebabnya, kurikulum disususun sedemikian rupa yang memungkinkan siswa melakukan beraneka ragam kegiatan belajar. Kurikulum tidak terbatas pada sejumlah mata pelajaran, namun meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa, seperti: bangunan sekolah, karyawa tata usaha, gambar-gambar, halaman sekolah, dan lain-lain.

B. SARAN

Berkaitan dengan pembahasan makalah ini, maka pemakalah sekaligus menyarankan agar: Melalui pembahasan makalah ini, pemakalah mengharapkan dari semua pihak, terutama aktifis STAIN SAS Bangka-Belitung untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun. Agar kedepannya makalah yang dibuat akan menjadi lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Budiningsih, Asri. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. 2005

Dakir. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Rineka Cipta. 2004

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. 2005

Hamalik, Oemar. Manajemen Pengembangan Kurikulu. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2006

Ibrahim, R dan Nana Syaodih. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta. 2003

Jurnal Pendidikan Penabur, - No.03 / Th.III / Desember 2004 89 ”Kurikulum, Sistem Evaluasi, dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis

Ladjid, Hafni. Pengembang Kurikulumn Menuju Kurikulum Berbasis Kompetensi. Ciputat: PT Ciputat Press Group. 2005

Subroto, Suryo . Tatalaksana Kurikulum, Jakarta: Rineka Cipta. 2005

Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar DI sekolah. Jakarta : Rineka Cipta. 2002

Syaodih Sukmadinata, Nana. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 1997

Minggu, 30 Oktober 2011

POWERPOINT

SEBAGAI MEDIA

DALAM PROSES BELAJAR DAN MENGAJAR



FERY SULISTYO

NPM : 09.11.108.170207.000694

Semester : V

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA


BAB I

PENDAHULUAN

Telah menjadi pengetahuan umum bahwa penggunaan media merupakan salah satu komponen penting di dalam proses pembelajaran di sekolah. Penggunaan media dipandang penting oleh karena membantu pencapaian tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, penyiapan media pembelajaran menjadi salah satu tanggung jawab guru.

Sejalan dengan itu, meluasnya kemajuan bidang komunikasi dan teknologi serta tingginya dinamika dalam dunia pendidikan semakin meluas pula tuntutan dan peluang penggunaan media yang lebih maju dan bervariasi di dalam proses pembelajaran. Terutama, dengan semakin berkembangnya teknologi komputer, berbagai kemungkinan dan kemudahan ditawarkan di dalam upaya memberi solusi terhadap berbagai masalah pembelajaran, terlebih untuk pengembangan media. Teknologi kumputer menawarkan berbagai kemungkinan dan kemudahan menghasilkan dan mengolah audio-visual sehingga pembuatan media pembelajaran yang lebih maju dan variatif dapat dilakukan.

Microsoft mengembangakan salah satu program (software) yang dapat digunakan sebagai perangkat untuk mempresentasikan materi kepada audiens, termasuk di dalam proses pembelajaran di sekolah, yakni Microsoft Power Point. Program ini selain untuk presentasi, juga menyediakan berbagai fasilitas untuk berkreasi, mengolah, dan mengimput file audio maupun visual. Keterbatasannya di dalam berkreasi dan mengolah audio-visual dapat diselesaikan dengan mengintegrasikan dengan program-program lain. Hasil kreasi dan olahan dari program lain kemudian diinput ke dalam program ini untuk diolah dan dipresentasikan.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Sekilas Tentang Microsoft PowerPoint

1. Pengertian

Microsoft PowerPoint atau Microsoft Office PowerPoint adalah sebuah program komputer untuk presentasi yang dikembangkan oleh Microsoft di dalam paket aplikasi kantoran mereka, Microsoft Office, selain Microsoft Word, Excel, Access dan beberapa program lainnya. PowerPoint berjalan di atas komputer PC berbasis sistem operasi Microsoft Windows dan juga Apple Macintosh yang menggunakan sistem operasi Apple Mac OS, meskipun pada awalnya aplikasi ini berjalan di atas sistem operasi Xenix.

Aplikasi ini sangat banyak digunakan, apalagi oleh kalangan perkantoran dan pebisnis, para pendidik, siswa, dan trainer. Dimulai pada versi Microsoft Office System 2003, Microsoft mengganti nama dari sebelumnya Microsoft PowerPoint saja menjadi Microsoft Office PowerPoint. Versi terbaru dari PowerPoint adalah versi 12 (Microsoft Office PowerPoint 2007), yang tergabung ke dalam paket Microsoft Office System 2007.

2. Sejarah.

Aplikasi Microsoft PowerPoint ini pertama kali dikembangkan oleh Bob Gaskins dan Dennis Austin sebagai Presenter untuk perusahaan bernama Forethought, Inc yang kemudian mereka ubah namanya menjadi PowerPoint. Pada tahun 1987, PowerPoint versi 1.0 dirilis, dan komputer yang didukungnya adalah Apple Macintosh. PowerPoint kala itu masih menggunakan warna hitam/putih, yang mampu membuat halaman teks dan grafik untuk transparansi overhead projector (OHP). Setahun kemudian, versi baru dari PowerPoint muncul dengan dukungan warna, setelah Macintosh berwarna muncul ke pasaran. Microsoft pun mengakuisisi Forethought, Inc dan tentu saja perangkat lunak PowerPoint dengan harga kira-kira 14 Juta dolar pada tanggal 31 Juli 1987. Pada tahun 1990, versi Microsoft Windows dari PowerPoint (versi 2.0) muncul ke pasaran, mengikuti jejak Microsoft Windows 3.0. Sejak tahun 1990, PowerPoint telah menjadi bagian standar yang tidak terpisahkan dalam paket aplikasi kantoran Microsoft Office System (kecuali Basic Edition).

B. Media Pembelajaran

Media menurut pengertian kamus adalah alat, sarana komunikasi, penghubung, atau yang terletak di antara dua pihak (orang, golongan, dsb). Jika media itu digunakan di dalam proses pembelajaran disebut “media pembelajaran”. Hingga saat ini, istilah media pembelajaran telah banyak diartikan oleh pakar pendidikan menurut cara dan sudut pandangnya masing-masing. Pengertian yang paling umum di antaranya dikemukakan oleh E. De Corte, yaitu “Suatu sarana nonpersonal (bukan manusia) yang digunakan atau disediakan oleh tenaga pengajar, yang memegang peranan dalam proses belajar-mengajar, untuk mencapai tujuan instruksional”, (Winkel, 1989: 187).

Oemar Hamalik (1982: 23) dengan menggunakan istilah media pendidikan mengartikannya sebagai alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dengan peserta didik dalam proses pendidikan di sekolah. Pengertian ini secara eksplisit menyatakan bahwa peran media dalam proses pembelajaran membawa pengaruh terhadap pencapaian hasil pembelajaran. Kemudian, positif-tidaknya pengaruh media tersebut lanjut Winkel bergantung pada kesesuaian media yang dipilih dengan tujuan instruksional khusus, materi pelajaran, prosedur didaktik, serta sifat dan kecenderungan peserta didik, (Winkel, 1989: 189).

Berdasarkan wujudnya, media dapat dibedakan atas media audiotif, media visual, dan media audio-visual. Media audiotif yaitu segala jenis alat bantu atau sumber belajar berupa suara atau bunyi semata, pencerapannya hanya melalui indera dengar. Media visual yaitu segala jenis alat bantu atau sumber belajar berupa benda atau objek kasat mata, pencerapannya hanya melalui indera lihat. Media audio-visual yaitu segala jenis alat bantu atau sumber belajar yang selain berupa suara atau bunyi juga berupa benda atau objek kasat mata, pencerapannya di samping melalui indera dengar juga melalui indera lihat.

Di samping pembedaan di atas, Anderson juga mengelompokkan media sebagai berikut ini:

1. Audio

pita audio (rol atau kaset)piringan audio(rekaman siaran)

2. Cetak

• buku teks terprogram

• buku pegangan/manual

• buku tugas

3. Audio – Cetak

• buku latihan dilengkapi kaset

• gambar/poster (dilengkapi audio)

4. Proyek Visual Diam

• film bingkai (slide)

• film rangkai (berisi pesan verbal)

5. Proyek Visual Diam dengan Audio

• film bingkai (slide) suara

• film rangkai suara

6. Visual Gerak

• film bisu dengan judul (caption)

7. Visual Gerak dengan Audio

• film suara

• video/vcd/dvd

8. Benda

• benda nyata

• model tiruan (mock up)

9. Komputer

• media berbasis komputer; CAI (Computer Assisted Instructional) & CMI (Computer Managed Instructional

(http://teknologipendidikan.wordpress.com/2006/03/21/)

C. PowerPoint Sebagai Media Pembelajaran

Presentasi adalah sebuah keterampilan yang perlu dikuasai setiap pekerja profesional saat ini. Bagi guru, presentasi dengan menggunakan Power point dapat dijadikan sebagai media pembelajaran yang menarik bagi siswa. Dengan media presentasi yang menarik, guru dapat mengkomunikasikan dengan baik materinya. Adapaun hal yang perlu dilakukan dan diperhatikan untuk membuat media presentasi dengan Power Point yang efektif, sebagai berikut:

1. Persiapan

a. Tentukan topik materi yang akan dipresentasikan

b. Persempit topik materi menjadi beberapa pemikiran utama.

c. Buatlah kerangka utama materi yang akan dipresentasikan

2. Tahapan dan Tips Singkat Bekerja dengan Power Point

a. Bukalah program Power Point di komputer anda

b. Mulailah dengan New file

c. Pilih silde design yang diinginkan

d. Inputlah judul utama materi presentasi yang akan disampaikan pada slide pertama

e. Inputlah sub judul materi di slide kedua (bila dipandang perlu cantumkan kembali judul utamanya)

f. Selanjutnya, inputlah point-point pokok materi setiap sub secara berurut pada slide-slide berikutnya

g. Anda dapat membuat atau memanfaatkan gambar sederhana dengan menggunakan fasilitas shapes dan clip art yang telah tersedia pada menu insert

h. Melalui menu insert, anda dapat pula mengimput berbagai macam ilustrasi (chart, picture, sound, movie). Untuk dapat mengimput picture, sound, movie anda harus lebih dahulu menyiapkan file-nya di dalam komputer yang anda gunakan.

i. Tampilan Template / background hendaknya sederhana, kontras dengan objek (teks, gambar, dll), dan konsisten.

j. Jenis huruf (font) yang digunakan hendaknya tidak berkaki (san serif) seperti Arial, Tahoma, Cilibri, dan semacamnya. Hindari menggunakan huruf berkaki (serif) seperti Times New Roman, Century, Courier, atau jenis huruf rumit seperti Forte, Algerian, Freestyle Script, dan semacamnya . Jenis huruf hendaknya konsisten.

k. Hindari menggunakan huruf terlalu kecil. Besar huruf yang disarankan minimal 18 pt (misalnya: 32 pt untuk judul, 28 pt untuk sub judul, 22 pt sub sub judul, dst).

l. Bila menggunakan Bullet hendaknya tidak lebih dari 6 bh dalam satu slide.

m. Warna yang digunakan hendaknya serasi dengan tetap memperhatikan asas kontras. Berikan penonjolan warna pada bagian yang dipentingkan. Hindarimenggunakan lebih dari tiga macam warna.

n. Gunakan Visualisai (gambar, animasi, audio, grafik, video, dll) untuk memperjelaskan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur. Visualisasi lebih dari sekedar kata-kata (Kalau bisa divisualisasikan kenapa harus dengan kata-kata). Namun, penggunaan visualisasi yang berlebihan akan menjadi distraktor.

o. Hindari menggunakan lebih dari 25 kata dalam satu slide

3. Teknik Presentasi

a. Buat suasana yang santai dan rileks untuk pendengarmu, misalnya dengan guyonan yang relevan, atau ambil perhatian mereka dengan bahasa tubuh atau peristiwa yang dramatik.

b. Gunakan kata ganti "personal" (misalnya kita) dalam memberikan presentasi.

c. Lakukan kontak mata dengan pendengar.

d. Presentasikan topik kamu dengan menggunakan suara yang ramah/akrab, tapi beri variasi sebagai penekanan pada beberapa kata.

e. Gunakan kata/kalimat transisi yang memberitahukan pendengar bahwa kamu akan menuju ke pemikiran yang lain.

f. Berilah pertanyaan-pertanyaan kepada pendengar untuk melibatkan mereka.

g. Ambil kesimpulan sesuai dengan pemikiran/argumentasi yang sudah dipresentasikan.

h. Sisakan waktu untuk pertanyaan, dan mintalah masukkan pada: isi presentasi (ide-ide berhubungan yang mungkin belum disentuh)

BAB III

KESIMPULAN

Pada dasarnya sarana pendidikan yang memadai dapat membantu dalam proses pendidikan lebih baik sehingga media memiliki peranan yang penting dalam proses belajar-mengajar di sekolah. Tapi dalam prosesnya di lapangan metode juga cukup berpengaruh sehingga perlu disesuaikan antara media dan metode yang digunakan agar proses belajar yang mudah dapat dilakukan oleh peserta didik.

Selain menguasai Teknik Mengajar guru juga di tuntut untuk memahami tentang teknologi, karena sesuai dengan kemajuan teknologi guru harus menggunakan teknologi tersebut sebagai media pengajaran.

Daftar Pustaka :

http://id.wikipedia.org/wiki/Powerpoint

Jamaludin, Rozinah. Multimedia dalam Pendidikan. 2005. Prin-AD SDN. BHD. Kuala Lumpur

M. Suyanto. Multimedia (Alat untuk Meningkatkan Keunggulan Bersaing). Andi Offset. 2003. Surabaya

Soedijarto. Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita. Gramedia. Jakarta. 2008