Kamis, 15 Maret 2012

"SUSU COKLAT" ATAU " T*I CICAK


Dalam Gelap aku berjalan, Hampa adalah Tujuanku, 
Kesendirian yang menemaniku, kelam masa laluku, cahaya keinginanku, 
apakah semua dapat kucapai???



Masa SMA, kata orang merupakan masa indah yang di lalui dalam siklus kehidupan manusia. Bagaimana tidak, di SMA kita bisa Mengenal yang namanya cinta monyet, di SMA kita bisa mengenal Persahabatan, dan sudah pasti kebersamaan di Masa SMA adalah masa yang tak pernah di lupakan sampai kapanpun.
semua itu hanya terjadi dalam dunia dongeng!!! Setidaknya bagi diriku. 

Di siang itu jam istirahat semasa aq SMA :

“Ali, Pa melamun maha Awak ni??” panggil fandi memecahkan lamunanku. “kenapa Gerang ngusut maha awk ni kode” ku jawab dia sambil sewot, “awak ni hali bujur, masa SMA ni habiskan buat Happy aj bro ap awak Melamun maha Jam Istirahat, tegak Kanak Rongo maha wak ni!”, “serah q leh ap wak repot dikit”, “Hmmm kanak hali,  ganggu kanak bini kek apa kek, parak Homo wak ni, ndik gawal kanak bini”. “Set*n” q jawab sahabat q ini sambil kami tertawa bersama. Ya fandi adalah sahabatku, sejak kami sama-sama duduk di sekolah dasar, hingga sekarang kami terus bersama. Sebenarnya bukan aq tidak suka perempuan, Gadis di sekolahku terbilang banyak yang cantik dan menggoda iman kaum adam di sekolah ini, tapi aku masih tidak bisa melupakan “Dia”

Dia yang aku maksud adalah "Rani", cinta monyet dan pertama yang aku rasakan sejak masa SMP hingga Sekarang. Jika kata para pujangga mengatakan “cinta itu buta” mungkin ungkapan itu ada benarnya, karena aku tidak memandang diriku sendiri yang Berbadan Pendek dan Kulit hitam kecoklatan, kalau ada yang di banggakan dariku, mungkin hanya rambut yang tidak pernah turun dan selalu tegak berdiri model Mohawk dan tegak, hingga Guru fisika waktu aku kelas XI (2 SMA), “bu Minah” sempat menjuluki aku "landak" Bercula. Bukan berarti aku tidak dekat dengan Rani. Aku dekat dengannya, bahkan sangat dekat karena Rani masih terhitung keluarga.  Kakek Nuri Merupakan Kakak dari Almarhum nenekku. kami sering bertemu dan berbicara di luar sekolah, pembicaraan itu terkadang tidak berjalan baik karena aku hanya sibuk terpesona oleh keindahan makhluk di depanku ini, namun di sekolah kami jarang sekali bertegur sapa.

Rasa ini ternyata di sadari Oleh Fandi. “parah awak ni Sepupu sorang di gasak jua” kata fandi padaku, “sembarang sebut maha awak ni, seboh kali hak” aq mengelak, “sudahlah kawan etam ni bersahabat dari tulak SD, jadi ndik usah awak Bejinakak dengan aq”, aq terdiam sejenak. Sambil memandang Rani yang bermain Bola Voli bersama teman-temannya aku menjawab pertanyaan Fandi, “leh, karena wak ni sahabatku tulak halus ku akui itu, tapi awak jangan bekesah ke siapa-siapa yo, apa lagi dengan kanaknya”, “Beres it bos, Tapi kenapa awak ndik Jujur aja dengan kanaknya?”, “ndik dah supan aku, biar aja dah, ndik apa-apa aq simpan sorang ni”,  “tapi kawan akan lebih baik jika awak jujur aja”.  Kata terakhir Fandi barusan membuatku berpikir untuk jujur kepada Rani, namun ketika aku kembali melihat kearah Rani, Nyaliku ciut, kulitnya yang putih dan aku yang berkulit Coklat kehitaman sangat tidak pantas “Bagaikan T*I Cicak” gumamku dalam hati. Namun suatu waktu ku ungkapkan perihal “T*I Cicak” itu Fandi sahabatku justru menjawab ; “Putih itu susu, Coklat adalah coklat, Susu itu nyaman dan Gurih, Coklat itu Manis, akan alangkah enaknya kalau keduanya disatukan menjadi SUSU COKLAT” setelah Fandi berkata itu padaku, aku hanya berdoa dalam hati “SEMOGA SUSU & COKLAT BISA BERSATU“.

Seminggu kemudian, sewaktu aku pulang dari sekolah, tiba-tiba handphoneku berdering tanda ada orang yang sedang menelon. Ku ambil Handphone itu dengan sedikit mengantuk, dan ku lihat ke dalam layar HP, ternyata Rani menelpon, Sontak rasa kantuk yang menyerang serentak sirna begitu saja bagaikan “Martabak sebungkus di Hadapan Anak Kost”. Lalu ku angkat HP , dan terdengar sayup suara gadis belia di seberang sana, “halo Ali, lagi ngapain?” suara manja khas Rani terdengar di seberang sana, “lagi tiduran maha ni Ran, kenapa emangnya?” aku menjawab acuh padahal dalam hati riang, “LI malam ini kamu bisa gak temani aq ke Loa Duri, ke tempat Elsa?”, “ngapain jauh2 ke Loa Duri?”,  “Kerja kelompok ne, mata pelajaran Biologi, kamu mau kan antar aku, aku gak berani naik motor sendirian malam-malam,  ibuku gak bolehkan kalau bensin gampang lah”, “kenapa gak diganti siang aja belajarnya” jawab ku pendek agar dia sedikit kesal, jujur aq suka sekali suara manjanya yang sedang kesal, “kan Ali gitu, jahat banget sih?” jawab Rani manja dan sontak membuat darahku bagaikn naik k kepala mendengar suara manjanya, “ ya Hak ku dengani awk, jam berapa Gerang?”, “belajarnya jam 8 tapi kita berangkat jam 7 ya? biar gak ngebut dan gak kemalaman sampainya”, “ ya Hak ndia ku  Jemput jam 7”, Ok Ali Terima kasih ya mau bantu aku”, iya leh sama” tutupku. Jujur aku sangat menyesal karena pembicaraan kami terhenti, jujur, aku suka suara manjanya. Niatku untuk tidur siang pun Gagal karena menunggu malam tiba, akhirnya siangku hari ini ku habiskan di rental Play station.


Malam yang di tunggu pun tiba. Kujemput dia menggunakan Motor pemberian Orang Tuaku. Dengan menggunakan Celana Jeans Hitam Kaos Putih dan Jaket hitam (ditambah kulit juga hitam, persis T*I Cicak)  aku pergi menjemput Rani. Malam ini Rani sangat cantik, dengan rambut panjang terikat menggunakan  dan kaos Ungu ketat serta celana Jeans pendek, simple tapi menarik. Kami berangkat menuju Loa Duri, sepanjang perjalan kami bercerita banyak namun yang ku sesalkan, “Aku Tidak Bisa Memandang wajahnya” karena aku duduk di depan, membonceng Sepeda Motor. Tepat Pukul 19.30 kami tiba di rumah Elsa dan disana sudah menunggu seorang teman Rani yang lain dan juga sudah tidak asing bagiku “Fandi”. Mereka pun mulai berdiskusi mengenai “Klasifikasi Makhluk Hidup” Karena sesama kelas Ipa namun Beda Lokal dan kebetulan aku juga membawa Buku Biologi maka aku juga ikut berdiskusi. Pukul 22.00 diskusi dan tugas masih belum selesai membuat Rani sedikit takut membuat orang tuanya cemas, maka Rani memutuskan untuk menelpon Orang Tunya. Saat menelpon Rani memberikan HP-nya padaku, “Li Ibu Mau ngomong tu”, Ngomong apa?” Tanyaku, “udah jawab aj” balas Rani, akhirnya aku jawab Telepon dari Orang Tua Rani yang Juga Bibiku. Ibu Rani hanya berpesan kalau Pulang Hati-hati dan pelan-pelan saja walaupun sampai Rumah Larut Malam karena orang tua Rani sudah kenal Lama Padaku maka kami di izinkan pulang larut malam. Pukul 12.10 diskusi dan tugas Kelompok Rani Selesai, maka kami berpamitan pada Elsa dan Orang tuanya untuk pulang. Fandi pulang ke Rumahnya di Jembayan, kami pulang beriringan sampai rumah Fandi di Jembayan, sedang Rumahku dan Rani masih agak Jauh, maka Kami lanjutkan perjalan kami berdua untuk pulang, dan Kulihat Rani kedinginan di Belakangku, “kedinginan kah awak Ran?”, aku bertanya, memecah sepi “iya ni dingin banget malam ini”, “ ya hak ni, pake aj jaket-ku, tapi sori yo Bau ni jaketnya bekas keringatku”, “gak apa-apa ko Li aku suka baunya”. Kata-kata terakhir Rani membuatku sedikit senang . Bagaimana Tidak, Bau apek keringatku di sukai sama Cewek??.  Di perjalanan Rani membuka pembicaraan “Li, kenapa kamu gak pacaran seperti anak-anak di sekolah, apa bener kata Fandi kalau Kamu MAHO?”, “waduh siapa yang MAHO (Manusia Homo)? Aku Normal masih ni”, “maaf, jangan Marah dunkz aku kan Cuma bercanda, aku takut kalau kamu marah-marah”, “ ndik marah kok aku Nur, Cuma belum ketemu yang pas aja dengan nyawa yg hitem ini, awk Ran kenapa Ndik Behodengan jua?” ku balas dia dengan pertanyaan yang sama, sambil tersenyum geli dia jawab sambil mencubit pinggang q “ihhh nyadar juga dia Item, beda dengan kamu aku sudah ketemu cowok seleraku tapi aku gak berani bilang dan aku menunggu dia nembak duluan”, “OO gitu y, kenapa gk bilang aja sama dia?”, kalau lama ya aku tembak duluan biar lega, sakit Li nyimpen perasaan", "Iya juga sih" kata-ku sambil sedikit kecewa, kecewa karena dia suka pada seseorang entah siapa. Akhirnya kami tiba di rumah Rani. Setelah turun dia berterima kasih padaku dan....., “Li kamu yakin gak mau tau Orang yg aku suka?”, “emang siapa kanaknya Ran??”, “orangnya gk jauh ko dari kamu li, bahkan sangat dekat”. “Fandi??”, Nuri pun diam sejenak dan suasana tampak hening sesaat. Tiba-tiba Nuri berkata “Sebenarnya Orang itu adalah..............





TO Be Continued


Part 2 (http://fery2612.blogspot.com/2012/04/susu-coklat-atau-ti-cicak-part-2.html)


TO BE CONTINUED………..

Bukti Kalau Cewek Itu Curang

1. Cewek Boleh Pake Pakaian Cowok, Cowok Nggak Boleh Pake Punya Cewek Cewek kalo pake kaos atau kemeja cowok keliatannya ngegemesin aja gitu, tapi giliran cowok yang pake pakaian cewek keliatannya euuuh, howekk…

 2. Ladies First dan Emansipasi Cuma Berlaku Buat Hal yang Menyenangkan Giliran antre buat masuk kendaraan umum ladies first berlaku, tapi giliran kalo genteng lagi bocor, mereka tinggal ngomong, “Kamu aja yang benerin, kamu kan cowok.”

 3. Cewek Kalo Salah Masuk Ke Toilet Cowok, Nggak Kenapa-kenapa Giliran cowok yang salah masuk ke toilet cewek disangka mau ngintip, bahkan bisa digebukin massal pake tas LV KW.



Sabtu, 04 Februari 2012

Mengapa Kucing Mengubur Kotorannya ?


Mengapa Kucing Mengubur Kotorannya ?


Anjing mengubur tulangnya sedangkan kucing malah mengubur kotorannya. Menyembunyikan sesuatu merupakan insting alami kucing, akan tetapi kucing bukanlah hewan yang sangat mementingkan kebersihan.

Kucing mengubur kotorannya dilakukan untuk menandai area teritorialnya. Mungkin bau kotoran kucing bagi kita manusia sama, akan tetapi dalam kotoran dan kencing kucing terdapat bau kimiawi unik yang disebut feromon.

Lain lagi dengan kucing liar (golongan Phantera) seperti Singa, Macan, Macan tutul, dan Jaguar. Mereka tidak mengubur kotoran mereka dalam menandakan area teritorial mereka. Kucing liar yang lebih kecil mengubur kotoran mereka untuk memastikan kucing yang dominan (Phantera) tidak merasa tertantang.

Kucing liar juga mengubur kotoran mereka untuk melindungi diri sendiri atau anaknya dari ancaman predator pemangsa lain.   Ini juga yang dilakukan kucing rumahan (Felis Catus) yang bedanya di perumahan tidak ada singa atau pemangsa lain.

Kucing peliharaan yang ada di rumah anda juga mengubur kotoran mereka karena mereka tahu bahwa anda adalah "Kucing" yang menguasai daerah rumah yang mereka tinggali.

Kucing juga bukan satu-satunya hewan yang mengubur kotorannya. Mereka diantaranya adalah Armadilo, cerpelai, dan musang juga melakukan hal yang sama.

Senin, 23 Januari 2012

Agus Prasetyo Pimpin PC.PMII Kutai Kartanegara


Agus Prasetyo Pimpin PC.PMII Kutai Kartanegara


Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kutai Kartanegara  pada hari Sabtu,21 Januari 2012 melaksanakan Konferensi Cabang (Konfercab) ke-XIV di Gedung MUI Tenggarong. Ahmad Sayum, Selaku Ketua Panitia mengatakan bahwa Konfercab ini dilaksanakan berdasar AD/ART PMII Pasal 20 dan diharapkan Konfercab ini melahirkan pemimpin baru yang nantinya dapat menjadi figur pemimpin bagi PMII sendiri. Selain itu dalam sambutannya Ketua IKA PMII Kutai Kartanegara, Abdul Kadir, SE berharap Konfercab PMII ini dapat menghasilkan regenerasi kepemimpinan dalam tubuh PMII. Dalam pergerakannya PMII diharapkan mampu menelaah sebuah masalah dan bisa memberikan sebuah solusi daripada kritik yang tidak memberi solusi. Konferensi sendiri berjalan dengan tertib dan tidak terjadi kericuhan. Sidang pleno yang dipimpin oleh Fery Sulistyo selaku Ketua Presidium sidang melahirkan beberapa rumusan tata tertib kriteria calon ketua umum. Setelah melalui beberapa tahap pencalonan, akhirnya terpilihlah Agus Prasetyo sebagai ketua umum periode 2012-2013 yang baru setelah bersaing dengan beberapa calon lainnya seperti, Fery Sulistyo, Dwi Indriani, Wahyudi dan Ahmad Sayum. Selanjutnya jajaran kepengurusan akan dibentuk oleh tim formatur.

Cerita Dari Kutai Timur Buaya Sangata


Cerita Dari Kutai Timur Buaya Sangata



Buaya Sangata terkenal dengan keganasannya karena sering menyerang dan memangsa manusia. Namun ini tak terjadi begitu saja. Konon, kawanan buaya bertindak sedemikian lantaran keserakahan manusia sendiri.

jauh sebelum Sangata menjadi ibukota Kutai Timur, daerah itu hanyalah sebuah perkampungan kecil di pinggiran sungai. Pada waktu itu Sangata dipimpin oleh seorang Kepala Kampung bernama Tua Sohor. Ia mendapat restu dari Sultan Kutai untuk memimpin masyarakat di desa tersebut. Tua Sohor ini terpilih karena selain memiliki keberanian juga selalu menjadi pemimpin dalam menghadapi berbagai gangguan, baik dari suku suku pedalaman maupun bajak laut Mindanau. Tua Sohor selain pemberani juga memiliki ilmu kekebalan tubuh dari berbagai senjata tajam. Karenanya dia disegani baik lawan maupun kawan.
Keberadaan Tua Sohor sebagai Petinggi di Sanggata sekitar tahun 1920. Pada tahun 1925 Belanda menemukan beberapa sumur minyak yang hingga kini masih terus ditambang dan dilanjutkan oleh Pertamina. Sejak itulah daerah Sangatta mulai berkembang dan berada di kawasan Kabupaten Kutai. Kemudian, berdasarkan UU. No.47 Tahun 1999 daerah ini memisahkan diri menjadi satu Kabupaten dengan sebutan Kabupaten Kutai Timur berwilayah seluas 35,057,40 km2 berpenduduk saat itu berjumlah 164.362 jiwa.
Kabupaten ini berbatasan sebelah Utara dengan Kabupaten Berau, Selatan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara dan Samarinda, sedang sebelah Timur dengan Kota Bontang dan selat Makassar. Sangata memiliki sumber daya alam yang cukup potensial yaitu batubara, emas dan hutan yang luas kemudian ditunjang oleh hasil perikanan dan perkebunan. Obyek wisata pun mendukung keberadaan kabupaten ini yaitu seperti Pantai Pangandaran di daerah Sangkulirang, Goa Pengadan, Goa Kombeng, Desa Miau Baru, Desa Long Noran, Desa Mekar Baru yang terdapat sebuah lamin besar milik suku Dayak.
Untuk daerah wisata masing-masing memiliki riwayat yang berlatarbelakang sebuah riwayat atau legenda. Misal sepereti Goa Kombeng, disini terdapat beberapa arca peninggalan para pendeta asal kerajaan Mulawarman, begitu pula dengan Goa Pengadan, yang selain terdapat pula bekas-bekas pertapaan dan batu bertulis, disini didalam goa dahulunya tempat bersarang seekor ular naga besar yang mampu melingkari gunung goa Pengadan. Belum lagi riwayat tentang keberadaan Desa Long Noran, Miau Baru, dan ada lagi satu kawasan yang bernama “Sandaran Babu”.
Sekilas diceritakan akan keberadaan beberapa arca Hindu yang terdapat di dalam Goa Kombeng. Dahulu ketika terjadi peperangan Kerajaan Mulawarman melawan Kerajaan Kutai Kartanegara, banyak para pendeta dan kerabat bangsawan Mulawarman yang mengungsi atau melarikan diri menghindari peperangan ke pedalaman hingga sampai ke daerah Goa Kombeng. Pada saat itu goa ini masih belum bernama Kombeng. Cerita nama Kombeng ini mempunyai latar belakang tersendiri setelah peristiwa peperangan antara pihak Mulawarman dan Kutai Kartanegara.
Dalam pengungsian atau pelarian para bangsawan dan pendeta membawa pula harta benda mereka serta peralatan pemujaan pada dewa-dewa Hindu seperti Patung Siwa dan Ganesha. Dalam pengungsian banyak tercecer benda benda berharga di sepanjang jalan yang mereka lalui. Hal ini karena para pengungsi ini dalam keadaan tergesa-gesa karena ketakutan diburu oleh laskar kerajaan Kutai Kartanegara. Begitulah sekilas tentang keberadaan goa yang disebut Kombeng itu.
Lain lagi tentang cerita daerah yang disebut Sandaran Babu. Sandaran Babu ini bukanlah merupakan sebuah desa atau kampung. Sandaran Babu ini adalah suatu kawasan hutan dan pantai yang tak berpenghuni. Namun pada zaman sekitar tahun 1970-an atau pada waktu awal penggundulan hutan yang disebut  “Banjir Kap“, daerah ini dimasuki oleh ribuan orang penebang kayu. Dari mulut ke mulut yang awalnya cerita dari masyarakat yang berdiam di Sangkulirang beredarlah cerita tentang suatu pantangan yang kalau dilanggar taruhannya adalah maut. Ceritanya setiap orang tak boleh duduk atau tidur bersandar pada baner-baner kayu yang terdapat di dalam hutan daerah tersebut. Karena jika ada yang berani tidur bersandar di baner-baner kayu orang tersebut akan mati sambil duduk bersandar. Korban pertama terjadi pada seorang yang bernama Babu.
Entah bagaimana cerita awal keberadaan si orang bernama Babu tersebut. Yang jelas si  Babu ditemukan mati dalam keadaan duduk bersandar pada baner sebatang pohon besar. Sebelumnya diceritakan si Babu telah diperingati oleh suara suara gaib yang ada di hutan tersebut. Namun karena tak percaya maka dia tidur dan bersandar pada sela baner kayu yang kemudian ditemukan oleh beberapa temannya si Babu telah tak bernyawa tersandar di bawah pohon berbaner besar. Sejak itulah daerah ini disebut sebagai daerah Sandaran Babu.
Sedangkan asal-usul nama Sangata sendiri adalah seekor Raja Buaya yang berkuasa di sepanjang sungai di sana. Buaya ini adalah buaya jadi-jadian yang katanya memiliki tempat tinggal besar dan megah terbuat dari kayu ulin dan bangris. Ketika itu si Sangata raja buaya ini jatuh cinta pada seorang gadis yang ada di kampung tersebut. Dalam bentuk manusia dia melamar gadis tersebut. Lamaran diterima dan pesta perkawinan berlangsung dengan meriah.
Pihak keluarga wanita samasekali tak mengetahui asal usul lelaki menantu mereka yang sebenarnya adalah seekor Raja Buaya. Setelah sebulan bersuami isteri si Raja Buaya mengajak isterinya pulang ke kediamannya di pedalaman sungai. Atas persetujuan keluarga maka keduanya diizinkan untuk pergi ke rumah mereka.
Setelah beberapa hari si isteri tinggal dirumah tersebut barulah sadar kalau dia bersuamikan seekor buaya jadi-jadian. Si isteri akhirnya merasa takut dan dalam suatu kesempatan dia melarikan diri menaiki sebuah perahu pulang ke kampungnya. Kepada keluarganya si wanita bercerita tentang keberadaan suaminya yang jadi-jadian itu. Tak berapa hari berselang si suami datang menyusul isterinya seraya mengajak pulang ke rumah mereka. Namun hal tersebut ditolak oleh sang isteri, walau si suami berkali-kali membujuk dan meminta agar keinginannya dipenuhi.
Si Raja Buaya sangat kecewa dan akhirnya menjadi marah kemudian mengamuk bersama para perajurit buaya menyerang kampung tersebut dan membantai siapa saja yang bisa didapat mereka di darat apalagi di sungai. Korban dari masyarakat kampung berjatuhan. Masyarakat kampung akhirnya kewalahan dan sudah tak lagi berani melakukan perlawanan terhadap para buaya jadi-jadian ini.
Dalam keadaan krisis, datanglah seseorang yang tak diketahui asal usulnya membantu masyarakat kampung yang sudah terjepit serta tak berdaya. Orang tersebut bernama Tua Empoi, yang katanya masih merupakan Nenek datuk dari Tua Sohor Petinggi Kampung. Raja Buaya bernama Sangatta ini akhirnya dapat dikalahkan oleh Tua Empoi dalam suatu pertarungan. Karena tak sanggup melawan Tua Empoi akhirnya si Sangatta menyerah dengan suatu perjanjian “batas hulu dan hilir”. Masyarakat kampung tidak akan dimangsa asal saja tidak melanggar wilayah hulu yang dijanjikan apalagi sampai merusak alam di sekitar pemukiman masyarakat wilayah Raja Buaya yang bernama Sangatta.
Lalu kenapa akhir-akhir ini Buaya sungai Sangatta mengamuk dan memangsa penduduk. Menurut cerita karena pihak manusia sudah melanggar perjanjian selain memasuki wilayah larangan juga sudah memporak-porandakan hutan dan sungai yang menjadi habitat berkembang biaknya buaya-buaya yang konon sebenarnya jadi-jadian itu. Menurut kabar selama manusia masih merusak lingkungan hutan dan sungai Sangatta selama itu pula mereka tak akan berhenti memangsa dan mencari korban. Pernyataan ini disampaikan melalui mimpi pada Tua-tua kampung juga pada pawang-pawang buaya yang berada di Sangatta. Namun demikian cerita yang berkembang di masyarakat ini sebaliknya ada yang menyebut mengada-ada. Bahkan sebagian lainnya malah hendak memburu ke tempat-tempat yang dikatakan ada buayanya.
Dalam kaitannya, semua itu terserah mau percaya atau tidak. Yang jelas Buaya Sangatta hingga kini masih berkeliaran dan memangsa. Untuk itu benar atau tidak perjanjian “ Hulu dan Hilir “ yang pernah disepakati bagi anda yang memasuki sungai Sangatta atau daerah rawa di sepanjang tepi sungai sebaiknya berhati-hati. Bukan tidak mungkin sang buaya bisa saja secara tiba-tiba berada di hadapan anda. Untuk itu patutlah berhati-hati jika berada di daerah dekat sungai Sangatta.(***)

Sumber (
http://www.korankaltim.co.id/read/news/2012/22290/cerita-dari-kutai-timur-buaya-sangata.html)

Jumat, 20 Januari 2012

PC.PMII KUKAR GELAR KONFERCAB KE-XVI


PC.PMII KUKAR GELAR KONFERCAB KE-XVI


Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kutai Kartanegara akan menghadapi sebuah acara Akbar Tahunan yaitu KONFERCAB. Hal ini dibenarkan oleh Sahabat Sayum Selaku Ketua Panitia. ” Konfercab akan dilaksanakan besok (21 Januari 2012), semoga acara berjalan sukses dan tidak ada hambatan yang merintang Jalannya Acara ini besok”. Target dari Ketua Panitia, acara ini akan dihadiri kurang lebih sekitar 120 Orang yang terdiri dari Para Alumni, Kader PMII dan Anggota dari UKM Kempo UNIKARTA. Kehadiran UKM KEMPO dalam Konfercab sendiri Bertujuan untuk mengenalkan dan sebagai ajang Pembelajaran bagi Kenshi Unikarta dalam hal Sidang Umum. Hal ini dilakukan karena UkM kempo akan menjalani MUBES-nya yang Pertama karena UKM yang dipimpin Oleh “Fery Sulistyo” ini baru satu tahun berdiri dan akan habis masa jabatannya. “datangnya Kenshi saya sendiri bukan bermaksud untuk mempromosikan dan mengidentikan UKM Kempo dengan PMII namun hal ini sebagai Pembelajaran bagi anggota untuk menjalan-kan MUBES Pertama yang Insya Allah akan dilaksanakan MEI tahun ini (2012)” Terang Fery selaku Ketua UKM yang juga Kader PMII. Agus Prstyo selaku ketua 1 Pc.pmii Kukar mengungkapkan KONFERCAB Sebagai ajang pembelajaran Kader terutama menyangkut Hal Demokrasi. KONFERCAB yang akan Berlangsung pada 21-22 Januari 2012 dan bertemakan “REVOLUSI PERGERAKAN” ini Insya Allah akan dibuka oleh Abd. Kadir SE selaku ketua IKA (Ikatan Alumni) PMII Kukar Tutup Sayum. (Fery)

Rabu, 02 November 2011

HUBUNGAN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

LOGO MAU DI PAKE copy


FERY SULISTYO

NPM : 09.11.108.170207.000694

Semester : V

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Beberapa virus yang tampak di dunia pendidikan yang bersumber dari paradigma sentralisasi, diantaranya penggunaan pakaian seragam, pengunaan kurikulum yang seragam, penggunaan stratergi pembelajaran yang seragam, penggunaan buku sumber yang seragam. Penyeragaman ini dimaksudkan untuk mengingkarimadanya keragaman.

Semua bentuk penyeragaman ini ternyata telah berhasil membentuk anak-anak Indonesia yang sangat menghargai kesamaan, dan tanpa sadar ternyata juga telah berhasil membentuk anak-anak yang mengabaikan penghargaan pada keragaman. Anak-anak sangat sulit menghargai perbedaan. Perilaku yang berbeda lebih dilihat sebagai kesalahan yang harus dihukum.[1]

Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Menurut Mauritz Johson (1967, Hlm. 130) kurikulum “prescribes for at least anticipates) the result of intruction”. Kurikulum juga merupakan suatu proses pendidikan. Disamping kedua fungsi itu, kurikulum juga merupakan suatu bidang studi, yang ditekuni oleh para ahli atau spesialis kurikulum, yang menjadi sumber konsep-konsep atau memberikan landasan-landasan teoretis bagi pengembangan kurikulum berbagai instuisi pendidikan.[2]

B. RUMUSAN MASALAH

Untuk mengetahui kaitan antara kurikulum dengan pembalajaran kita harus mengetahui beberapa masalah diantaranya:

1. Apa yang dimaksud dengan Konsep Kurikulum?

2. Apa yang dimaksud Kurikulum dan Teori-Teori Pendidikan?

3. Apa yang dimaksud Pengertian Kaitan Antara Kurikulum Dengan Pembelajaran?

4. Apa yang dimaksud Fungsi kurikulum terhadap pembelajaran?

5. Beberapa Komponen kurikulum yang berpengaruh terhadap pembelajaran?

C. TUJUAN

Dengan mempelajari pendekatan belajar mengajar pemakalah mengharapkan kita dapat mengetahui Apa yang dimaksud Apa yang dimaksud dengan Konsep Kurikulum, Apa yang dimaksud Kurikulum dan Teori-Teori Pendidikan, Apa yang dimaksud Pengertian Kaitan Antara Kurikulum Dengan Pembelajaran, Apa yang dimaksud Fungsi kurikulum terhadap pembelajaran, Beberapa Komponen kurikulum yang berpengaruh terhadap pembelajaran, Dan semoga dengan mempelajari ini pengetahuan kita tentang pendidika semakin bertambah.


BAB II

PEMBAHASAN

A. KAITAN ANTARA KURIKULUM DENGAN PEMBELAJARAN

Dalam kamus besar bahasa Indonesia edisi ketiga pengertian dari Kaitan adalah (kait;gancu); hubungan (sangkutan) : mungkin hal itu ada. [3] Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan, perangkat mata kuliah mengenaibidang keahlian khusus.[4]

Kurikulum asal mulanya bukan berasal dari bahasa Indonesia, tetapi berasal dari bahasa latin yang kata dasarnya adalah Currere, secara harfiah berarti lapangan perlombaan lari, lapangan tersebut ada batas start dan batas finish. Dalam lapangan pendidikan pengertian tersebut dijabarkan bahan pelajaran sudah ditentukan secara pasti, dari mana mulai dijabarkan dan kapan diakhiri, dan bagaimana cara untuk menguasai bahan agar dapat mencapai gelar.[5]

Kegiatan penyusunan analisis materi pelajaran berupa penjabaran dan penyesuaian isi GBPP mata pelajaran, Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Menjabarkan Kurikulum

Yaitu menguraikan bahan pelajaran, menguraikan tema, Konsep pokok bahasan yang mengacu pada tujuan pembelajan.

2. Menyesuaikan Kurikulum

Yaitu menyesuaikan pembellajran dalam kurikulum nasional dengan keadaan stempat agar proses belajar dan hasil belajar dapat dicapai secara efektif dan efisien, sesuai dengan tujuan. Kegiatan penyesuaian kurikulum mencakup:

a. Pemilihan metode

b. Pemilihan sarana pembelajaran

c. Pendistribusian waktu belajar mengajar[6]

Dalam perencanaan atau penyusunan suatu program pengajaran, hal pertama yang perlu mendapat perhatian adalah kurikulum terutama GBPP-nya. Dalam GBPP telah tercantum tujuan kurikuler, tujuan intruksional, pokok bahasan serta jam pelajaran untuk mengajarkan pokok bahasan tersebut.[7]

B. Konsep Kurikulum

Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori praktik pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya. Menurut pandangan lama, kurikulum merupakan kumpulan mata-mata pelajaran yang harus disampaikan guru atau dipelajari oleh siswa. Anggapan ini telah ada sejak zaman Yunani kuno, dalam lingkungan atau hubungan tertentu pandangan ini masih dipakai sampai sekarang, yaitu kurikulum sebagai “.... a racecourseof subject matters to be mastered” (Robert S. Zais, 1976, Hal. 7). Banyak orang tua bahkan juga guru-guru, kalau ditanya tentang kurikulum akan memberikan jawaban sekitarbidang studi atau mata-mata pelajaran.

Lebih khusus mungkin kurikulum diartikan hanya sebagai isi pelajaran. Kurikulum adalah program didikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa. Berdasarkan program pendidikan tersebut siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga mendorong perkembangan dan pertumbuhannya sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, dengan program kurikuler tersebut, sekolah/lembaga pendidikan menyediakan lingkungan pendidikan bagi siswa untuk berkembang. Itu sebabnya, kurikulum disususun sedemikian rupa yang memungkinkan siswa melakukan beraneka ragam kegiatan belajar. Kurikulum tidak terbatas pada sejumlah mata pelajaran, namun meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa, seperti: bangunan sekolah, karyawa tata usaha, gambar-gambar, halaman sekolah, dan lain-lain.[8]

C. Kurikulum dan Teori-Teori Pendidikan

Kurikulum mempunyai hubungan yang sangat erat dengan teori pendidikan. Suatu kurikulum disusun dengan mengacu pada satu atau beberapa teori kurikulum, dan suatu kurikulum diturunkan atau dijabarkan dari teori pendidikan tertentu. Kurikulum dapat dipandang sebagai rencana konkret penerapan dari suatu teori pendidikan. Untuk lebih memahami hubungan kurikulum dengan pendidikan, dikemukakan bebrapa teori pendidikan dan model-model konsep kurikulum dari masing-masing teori tersebut. Minimal ada empat teori pendidikan yang banyak dibicarakan para ahli pendidikan dan dipandang mendasari pelaksanaan pendidikan, yaitu

1. Pendidikan klasik

Pendidikan klasik atau classical education dapat dipandang sebagai konsep pendidikan tertua. Konsep pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa seluruh warisan budaya, yaitu pengetahuan, ide-ide, atau nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir terdahulu.

2. Pendidikan pribadi

Pendidikan pribadi (personalized education) lebih mengemukakan peranan siswa.

3. Pendidikan interaksional

Konsep pendidikan ini bertolak dari pemikiran manusia sebagai makhluk sosial. Dalam kehidupannya, manusia selalu membutuhkan manusia lain, selalu hidup bersama, berinteraksi, dan bekerja sama.

4. Teknologi pendidikan

Yang diutamakan dalam teknologi pendidikan adalah pembentukan dan penguasaan kompetensi bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya lama.

Baik dalam uraian tentang modek-model konsep kurikulum, maupun dalam macam-macam desain kurikulum, masalah ini dan proses pengajaran selalu menjadi tema dan titik tolak. Hal itu disebabkan kedudukan kedua komponen kurikulum tersebut sangat penting. Dengan demikian, tidak mengherankan apabila ada yang berpendapat bahwa kurikulum itu tidak lain dari satu program pendidikan yang berisi jalinan antara isi dengan proses penyampaiannya. Pendapat demikian tidak seluruhnya benar tetapi mengandung kebenaran, mengingat kedua komponen tersebut berperan sebagai kunci.

D. Pengertian Kaitan Antara Kurikulum Dengan Pembelajaran

Dalam kegiatan proses pembelajaran, kurikulum sangat dibutuhkan krikulum sebagai pedoman untuk menyusun target dalam proses belajar mengajar. Namun, dalam memahami hakikat kurikulum sering terjadi perbedaan persepsi dan pemahaman.

Kurikulum dipandang sebagai suatu bahan tertulis yang berisi uraian tentang program pendidikan suatu sekolah yang harus dilaksanakan dari tahun ke tahun.

Kurikulum dilukiskan sebagai bahan tertulis untuk digunakan para guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Yang dimaksud dengan kurikulum adalah suatu usaha untuk menyampaikan asas-asas dan ciri-ciri yang penting dari suatu rencana dalam bentuk yang sedemikian rupa sehinggga dapat dilaksanakan guru di sekolah. kurikulum diartikan sebagai tujuan pengajaran, pengalaman-pengalaman belajar, alat-alat plajaran dan cara-cara penilaian yang direncanakan dan digunakan dalam pendidikan. kurikulum dipandang sebagai program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan tertentu.

Fungsi kurikulum terhadap pembelajaran Sehubung dengan pengertian dasar pendidikan tersebut, maka fungsi kurikulum difokuskan pada tiga aspek berikut: Fungsi kurikulum bagi sekolah yang bersangkutan, yaitu sebagai alat untuk mencapai seperangkat tujuan pendidikan yang didinginkan dan sebagai pedoman dalam mengaur kegiatan sehari-hari.

Fungsi kurikulum bagi tataran tingkat sekolah, yaitu sebagai pemeliharaan proses pendiddikan dan penyiapan tenaga kerja.

Fungsi bagi konsumen, yaitu sebagai keikutsertaan dalam memperlancar pelaksanaan program pendidikan dan kritik yang membangun dalam penyempurnaan progran yang serasi.

E. Komponen kurikulum terhadap pembelajaran.

Kurikulum dalam suatu sekolah mengandung tiga komponen dasar, yaitu komponen tujuan, isi atau materi dan komponen organisasi atau stratergi. Komponen tujuan

1. Tujuan pendidikan nasional, yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai pada tataran nasional.

2. Tujuan instusional yaitu yang ingin dicapai pada tingkat lembaga pendidikan.

3. Tujuan kurikulm yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai pada tingkat tataran mata pelajaran atau bidang studi.

4. Tujuan intruksional yaitu tujuan yang ingin dicapai pada tingkat tataran pengajaran yang dapat berwujud sebagai bentuk watak, kemampuan berfikir, dan berketerampilan teknologinya secara bertahap.

Isi suatu program kurikulum di sekolah dibedakan berdasarkan jenis bidang studi yang disajikan dan isi program masing-masing bidang studi tersebut. Komponen organisai dan stratergi

Komponen kurikulum yang terakhir adalah organisasi dan stratergi komponen organisasi, didalamnya terdapat struktur (susunan) horizontal dan vertikal. Dalam komponen stratergi pelaksanaan kurikulum tergambar dan cara yang ditempuh dalam melaksanakan pengajaran, cara mengadakan penilaian, cara melaksanakan bimbingan dan penyuluhan dan cara mengatur kegiatan sekolah secara keseluruhan.[9]

Menurut Drs. Ismed Syarif dkk (1976, Hal. 18-24) kegiatan dalam bidang kurikulum inim masih diperluas dengan mengatur pelaksanaan evaluasi belajar, membuat laporan hasil evaluasi dan mengatur kegiatan bimbingan dan penyuluhan.[10] Proses pembelajaran dapat terjadi secara efisien, dan efektif melalui suatu sistem kurikulum yang dirancang secara sistematik sejak penentuan tujuan yang harus dicapai, materi yang harus dipelajari, proses pembelajaran yang harus diterapkan, dan sistem evaluasi yang harus dikembangkan dan dilaksanakan. Kalau kita cermati, tujuan pendidikan yang dirumuskan dalam Undang- Undang Pendidikan Nasional, baik UU No. 4 Tahun 1950, jo UU No. 12 Tahun 1954, yang mencitakan manusia terdidik Indonesia sebagai “manusia susila yang cakap dan demokratis serta bertanggung jawab”, atau UU No. 2 Tahun 1989 yang mencitakan wujud manusia Indonesia terdidik sebagai “manusia yang beriman dan bertaqwa, sehat jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, berkepribadian yang mantap dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”, dan yang terakhir UU No. 20 Tahun 2003 yang mencitakan “manusia yang beriman, bertaqwa dan 92 Jurnal Pendidikan Penabur - No.03 / Th.III / Desember 2004 Kurikulum, Sistem Evaluasi, dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis berakhlak mulia, dan seterusnya”, kesemuanya mencitakan wujud sosok manusia yang ideal. Ketercapaiannya tidak mungkin tanpa suatu proses yang terencana, terprogram, dan terlaksana dengan efisien, efektif, dan relevan. Tetapi pada umumnya tujuan pendidikan yang demikian ideal selama ini tidak pernah dengan sungguh-sungguh diterjemahkan secara operasional dan diupayakan ketercapaiannya.

Bahkan banyak sementara orang (termasuk para pejabat atau pakar) yang memandang hal tersebut tidak mungkin dapat dicapai oleh sekolah. Mereka ini adalah kaum realis, dalam pengertian kalau penyelenggaraan pendidikan disekolah dengan kondisi seperti yang berlangsung sampai dengan hari ini, dalam pengertian rendahnya kesungguhan dan kemampuan guru, serta terbatasnya, bahkan tanpa fasilitas serta sarana dan prasarana yang diperlukan, dengan pengertian waktu yang terbatas, dalam pengertian model pembelajaran yang tidak lebih dari mendengar, mencatat, dan menghafal dengan evaluasi hanya mengukur kemampuan mengingat apa yang telah dipelajari dengan keterbatasan buku bacaan baik untuk guru dan murid. Kalau tetap demikian memang segala tujuan itu tidak akan dapat dicapai. Kalau demikian sesungguhnya tidak perlu kita mengubah kurikulum bahkan tidak perlu mengubah UU Sisdiknas, karena semuanya tidak dengan sendirinya dapat meningkatkan mutu pendidikan.[11]

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Kurikulum sangat berkaitan dengan pembelajaran dikarenakan Kurikulum adalah program didikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa. Berdasarkan program pendidikan tersebut siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga mendorong perkembangan dan peertumbuhannya sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, dengan program kurikuler tersebut, sekolah/lembaga pendidikan menyediakan lingkungan pendidikan bagi siswa untuk berkembang. Itu sebabnya, kurikulum disususun sedemikian rupa yang memungkinkan siswa melakukan beraneka ragam kegiatan belajar. Kurikulum tidak terbatas pada sejumlah mata pelajaran, namun meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa, seperti: bangunan sekolah, karyawa tata usaha, gambar-gambar, halaman sekolah, dan lain-lain.

B. SARAN

Berkaitan dengan pembahasan makalah ini, maka pemakalah sekaligus menyarankan agar: Melalui pembahasan makalah ini, pemakalah mengharapkan dari semua pihak, terutama aktifis STAIN SAS Bangka-Belitung untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun. Agar kedepannya makalah yang dibuat akan menjadi lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Budiningsih, Asri. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. 2005

Dakir. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Rineka Cipta. 2004

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. 2005

Hamalik, Oemar. Manajemen Pengembangan Kurikulu. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2006

Ibrahim, R dan Nana Syaodih. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta. 2003

Jurnal Pendidikan Penabur, - No.03 / Th.III / Desember 2004 89 ”Kurikulum, Sistem Evaluasi, dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis

Ladjid, Hafni. Pengembang Kurikulumn Menuju Kurikulum Berbasis Kompetensi. Ciputat: PT Ciputat Press Group. 2005

Subroto, Suryo . Tatalaksana Kurikulum, Jakarta: Rineka Cipta. 2005

Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar DI sekolah. Jakarta : Rineka Cipta. 2002

Syaodih Sukmadinata, Nana. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 1997